makhluk halus

Debu,  hati, sudut yang temaram, di mana aroma kopi beradu dengan bau tanah setelah hujan, dia duduk termenung. Jemarinya yang lentik mengelus pinggiran cangkir porselen, seolah mencari kehangatan yang telah lama hilang dari jiwanya. Sosoknya adalah personifikasi dari sebuah melankolia yang indah namun mematikan. Syahdu yang mencekam.

​Dia adalah Hawa yang lahir dari puing-puing altar yang retak. Masa kecilnya bukanlah taman bermain, melainkan sebuah medan perang sunyi di mana kata-kata ayahnya menjadi mortir yang menghancurkan benteng pertahanannya. Juga tentang anomali cinta pertama jatuh hati kepada kutukan yang mengerikan. Sang bunda hanya mampu memeluknya dalam bisu, memberikan perlindungan yang rapuh di balik gorden-gorden rumah yang selalu tertutup rapat. 

Takut, khawatir dan gundah busana itu tumbuh bersamanya, menjalar seperti tanaman merambat yang mencekik pohon inangnya, meninggalkan bekas luka yang tak kasat mata namun terus berdenyut tiap kali petir menyambar di langit ingatannya.

​Dalam sewaktu tanpa sadar di mana dia hampir menyerah pada dinginnya kesendirian, hadirlah sebuah pertemuan lama yang tak terduga. Di bawah lampu jalan yang berkedip, seseorang berbisik kepadanya, tentang mata air yang di pertamukan dengan ramah dan karib... Ohhh, Empuu, engkau meneguk sloki memabukkan itu dan melupakan kopiku kemarin sore... Kopi tentang ampas-ampas nasehat igau dari teman. Kau mabuk dan amnesia, ditengah gemuruh ingatanmu tentang pesanku, kau terbuai dan salah dengar...

​"Kau hadir seperti musim semi yang menumbuhkan bunga-bunga harapan, bahkan saat aku tak lagi percaya pada mekar." sapa ramah tamu...

​Namun, pujian itu baginya hanyalah sebuah paradoks. Yang akan menyapaku malu-malu tanpa wajah lagi, juga basa basi yang berwajah bijaksana. Karena kau rindu dan terpedaya tipu. Kau lupa, teman... sedetak kejap saja sebenarnya lupa itu. Tapi sayangnya, dosis itu tinggi dan cukup membuatmu suri dari peran hidupmu. Bagaimana mungkin sebuah taman bisa tumbuh di atas tanah yang telah lama hangus oleh api amarah masa lalu?

​Sejak itu,
sunyi seperti lebih mengenalku
daripada siapa pun
​dan aku masih di sini,
belajar menerima
tanpa benar-benar mengerti
memelihara rindu tanpa mencari,
juga enggan pergi...

​Setiap langkah perempuan adalah tarian di atas mata pisau filsafat. Ia memelihara rindu bukan untuk menemukan, tapi untuk merasakan bahwa ia masih memiliki detak, di detik itu juga. Ia melihat kehilangan sebagai sebuah rayuan dalam peluk, sesuatu yang begitu intim namun sangat menyakitkan. Baginya, penyesalan bukan untuk diratapi, melainkan untuk ditertawakan sebelum air mata benar-benar mengering menjadi kristal duka.

​Apa kabar senyum itu?
apakah dunia sekarang sudah meragu?
dari rayumu dalam peluk
tentang kehilangan yang enggan
ataukah sesal yang menertawakan?

​aku?
tak peduli seberapa gelap hujanmu...
reda adalah jalan paling baik untuk biru
sebelum mereka menamai dengan pelangi...

​Dia telah belajar bahwa samudera jiwanya jauh lebih luas daripada gunung-gunung amarah yang pernah dibangun ayahnya. Ia adalah perwujudan dari kepasrahan yang agung, seperti air yang jernih dan dingin, yang mampu memadamkan api tanpa perlu bersuara.

Setidaknya untuk kini...

​Langkahnya kini lebih istimewa dari segala kesalahan terindah yang pernah ia perbuat. Ia berdiri tegak, bukan karena ia kuat, tapi karena ia tak lagi punya tempat untuk jatuh.

​Tak peduli,
seberapa tinggi gunung,
api, awan gelap dan marah
nyatanya samudera lebih luas,
air, jernih dingin dan pasrah...
​layarmu akan tetap lebih baik,
dari aib tambatmu yang salah

seperti halnya,
berdirimu, tegak juga langkahmu
lebih istimewa dari kesalahan terindah
di hari terakhirmu...
sebelum pamit...

​Pada akhirnya, ia bukan lagi sekadar manusia yang terbuat dari debu dan air mata. Di balik tatapannya yang kosong namun dalam, aku melihat sesuatu yang lebih purba dan abadi. Seseorang yang hanya bisa dirasakan namun tak bisa disentuh sepenuhnya; sebuah esensi yang melampaui logika duniawi.

​Dia...
Kusirat nama dewata,
Makhluk halus...

Pomalaa, 20260414
duiCOsta_hatihati 

Comments

Popular Posts