rasa takut dan sunyi

Ada masa ketika aku merasa seluruh dunia berbicara padaku..
angin yang menampar wajah, hujan yang jatuh pelan di kaca, bahkan suara langkahku sendiri di jalan yang sepi.
Semuanya seperti sedang mengatakan sesuatu,
tapi aku terlalu sibuk menafsirkan bunyi,
hingga lupa mendengarkan maknanya.

Lama kemudian, aku sadar atau pura-pura sadar,
yang paling sering berbisik bukan dunia,
melainkan diriku sendiri yang tak kunjung tenang.

Kata siapa:
“Jangan gunakan energimu untuk khawatir. Gunakanlah untuk percaya, mencipta, berpikir, belajar, dan tumbuh.”

Kalimat itu dulu hanya kutahu sebagai kutipan. Tapi kini, ia seperti ayat kecil yang hidup di dadaku.
Aku mulai mengerti bahwa kekhawatiran bukan musuh, ia hanyalah tanda bahwa aku menolak percaya.
Bahwa aku takut kehilangan kendali atas hal-hal yang tak pernah bisa kupegang.

Lalu aku belajar percaya,
bukan pada hasil, tapi pada arah.
Bukan pada doa yang dijawab, tapi pada langkah yang dipandu.
Dan ketika aku mulai percaya, dunia tiba-tiba terasa pelan.
Waktu tak lagi menakutkan,
karena setiap detik yang lewat ternyata sedang menumbuhkanku diam-diam.

Seperti kata Rumi:
“Lampu-lampu memang berbeda, tapi cahayanya satu dan sama.”

Ah, betapa dalam kata-kata itu menembusku.
Aku yang dulu sibuk mencari “Tuhan yang paling benar”, kini hanya ingin menemukan cinta yang paling tulus.
Rumi membuatku mengerti bahwa kebenaran bukanlah pagar, tapi jembatan.
Dan Tuhan tak pernah berada di sisi tertentu dari jembatan itu.

Mungkin sebab itu, cinta selalu melahirkan keberanian, karena hanya cinta yang mampu menembus batas agama, nama, bahkan tubuh.
Dan ketika aku mencintai, aku tak sedang menambah sesuatu pada dunia,
aku hanya sedang menghapus dinding di dalam diriku.

Lain lagi kata Al-Ghazali:
“Jangan tertipu oleh ilmu yang membuatmu tinggi, sebab ilmu sejati membuatmu rendah.”

Aku tersenyum pahit.
Betapa sering aku merasa sudah mengerti, tapi nyatanya hanya memperbanyak definisi.
Aku pernah mencintai pengetahuan lebih dari kebijaksanaan,
dan hasilnya, aku pandai bicara tapi miskin rasa.

Kini aku tahu,
hikmah tak selalu datang dari kitab,
kadang ia datang dari diamnya batu,
dari sabarnya hujan,
dari kecewanya hati yang akhirnya tahu kenapa harus patah.

Karena ilmu yang tak membuatmu tunduk,
hanyalah cahaya yang memantul di permukaan,
tidak pernah menyentuh dasar.

Kemudian datang Ibnu Arabi,
mendekat dengan tatapan yang dalam, dan berkata:
“Yang kau sebut sesat hari ini, bisa jadi penuntun menuju Tuhan di hari nanti.”

Aku termenung lama.
Mungkin kebenaran memang tak butuh pembela,
karena ia akan membela dirinya sendiri lewat waktu.

Aku pernah takut untuk berbeda.
Takut berpikir di luar kotak yang diajarkan.
Tapi semakin kutolak pertanyaan di kepalaku,
semakin jauh aku dari diriku sendiri.

Kini aku tahu,
Tuhan tak marah pada mereka yang mencari,
ia hanya kecewa pada mereka yang berhenti bertanya.

Dan di antara semua suara itu, Rumi, Ghazali, Arabi, Siapa, aku mendengar satu suara yang lebih halus, lebih sunyi,
tapi lebih jujur daripada semuanya.
Ia tak berasal dari luar,
tapi dari ruang kecil di dalam dada yang selama ini kutakuti.

Katanya kataku,
Mungkin semua ini hanyalah perjalanan pulang.
Bukan pulang ke tempat, tapi ke kesadaran.
Makrifat bukan ilmu baru, tapi keberanian untuk berhenti mencari di luar,
dan mulai melihat ke dalam.

Tuhan tak pernah jauh.
Kitalah yang sibuk menutup mata dengan doa, padahal yang Ia inginkan hanyalah tatapan yang jujur.

Dan kini, setelah semua diam dan cahaya menyatu,
aku hanya ingin hidup perlahan,
agar bisa mendengar setiap napas semesta yang mengucapkan satu hal yang sama:
“Aku bersamamu sejak awal.”
itu terbukti, dengan sampainya aku, kamu disini...
sekarang..

"all paths lead to zero value", kataku menutup.
semoga abadi.

Yogyakarta, 20251010
duiCOsta_hatihati 

Comments

Popular Posts