dzikir sang majnun

Orang-orang mengernyit dahi,
sedikit sipit dan dalam,
ku dengar,
kau bergumam, 
aku aneh yang aneh-aneh..

padahal aku hanya tersesat sebentar
di antara dua pintu:
yang satu disebut surga,
yang satu katanya neraka…
dan jujur saja, baunya sama saja,
mungkin karena penjaganya malas mengepel.
xixiix xixixiixix...

Aku tanya malaikat penjaga:
“Mana pintu menuju keheningan?”
Ia jawab:
“Kami sedang renovasi, kembali besok.”
Lalu ia mengusirku
seperti lalat yang mencoba ikut berzikir.
xixixiixix xixiix...

Di tengah perjalanan,
aku bertemu iblis yang sedang piknik.
Ia bilang,
“Wahai si konyol, tahukah kau?
Surga itu terlalu terang,
orang-orangnya buta tanpa sadar.”
Aku tertawa sampai hampir tersedak:
“Dan neraka terlalu jujur,
di sana api tidak pernah pura-pura hangat.”

Lalu tiba-tiba ada suara dari langit:
“Kau sebenarnya mau ke mana?”
Aku jawab,
“Aku mencari tempat
di mana pahala dan dosa
tidak lagi saling pamer seperti dua influencer.”

Langit mendengus,
“Kalau begitu, kau tersesat di tempat yang tepat.”

Dan aku pun terdiam,
dengan tenang memakan angin yang gosong,
berkata pada diriku sendiri:

“Jika surga adalah rumah mewah
yang membuat jiwa kehilangan arah,
dan neraka adalah dapur panas
yang membuat ego gosong perlahan,
maka mungkin kebebasan
adalah lorong sempit di tengahnya,
tempat orang gila bisa tertawa,
dan orang waras ketakutan.”

Pada akhirnya aku menemukan pencerahan:
Bahwa kesucian yang dipamerkan
lebih mematikan dari dosa yang jujur,
dan neraka yang mengakui dirinya neraka
lebih aman daripada surga
yang sibuk menutupi cacat dindingnya.

Dan majnunku ini pun berseru:
“Jika Tuhan ingin mengujiku,
biarlah aku diuji oleh tawa,
bukan oleh mereka yang sibuk mengira
dirinya sudah lulus semua.”

Lalu aku menutup zikirku dengan khusyuk,
“Heii Tuhan… kalau Engkau ciptakan surga,
tolong jangan buat terlalu mewah,
aku takut tersandung karpetmu yang merah”

Makassar, 20251011
duiCOsta_hatihati 

Comments

Popular Posts