me-rebabkan diri
aku, bukan mengaku
dawai sunyi yang digesek waktu,
menarik napas dari langit,
dan menghembuskannya ke bumi.
mau tak mau,
kau merebabkan diri,
membuka gendhing takdir,
dengan nada yang tak pernah memilih,
namun selalu mengisyaratkan...
demi laras serasi.
jauh setelah kendang,
atau sesaat sebelumnya,
di antara gong awal dan gong akhir,
kau hanyalah perjalanan suara,
menyentuh telinga dunia,
dan kembali menjadi diam.
jika aku dan engkau harus me-rebab,
demi Dia,
sumber segala sebab..
Yogyakarta, 20250810
duiCOsta_hatihati
Comments
Post a Comment