Enam Enam Dua Enam
Hari ini, ketika angka di kalender menunjuk pada 6 Juni, aku menyadari bahwa semesta sering kali bekerja dengan cara yang paling rahasia dan tak terduga.
Kemarin, tanggal 5, seharusnya tubuhku sudah diterbangkan angin menuju pulau seberang. Manusia merencana, namun sepotong alasan teknis dari maskapai tiba-tiba menahan langkahku di bumi yang sama dengannya. Bagi dunia, itu mungkin sebuah penundaan atau gangguan jadwal. Namun bagiku, itu adalah konspirasi langit yang paling indah. Tuhan sedang sengaja mematahkan sayap pesawat, agar aku tetap tinggal; agar aku tidak kehilangan sedetik pun waktu untuk mengeja syukur di hari lahirmu.
Ini bukan sekadar kebetulan teknis. Ini adalah berkah yang menyamar, sebuah jeda yang sengaja ditenun oleh takdir agar aku bisa berada di sini, di sisimu, merayakan detak jantungmu yang memulai babak baru. Ya, babak baru yang mungkin berulang, tapi dengan waran dan aroma yang selalu di perbaharui oleh waktu.
Sejak tahun 2004 yang sakral itu, ketika janji suci diucapkan dan kita resmi melangkah dalam satu ketukan nadi yang sama, engkau telah menjelma menjadi penanda arah. Jika hidup ini adalah bentangan laut yang sering kali bergolak, maka engkau, Ayu Endha, adalah mercusuar yang tidak pernah lelah memancarkan damai di tengah kecamuk gelombang, pasnag-surut, atau surut-surut.
Lebih dari dua dekade telah genap kita berjalan beriringan mengeja buku. Dalam filsafat ruang dan waktu, dua puluh dua tahun mungkin hanya sekejap mata bagi bintang-bintang di langit. Namun bagiku, berjalan bersamamu selama itu adalah perjalanan melintasi keabadian kecil. Engkau bukan sekadar pramu yang menemani di meja makan, melainkan ruang teduh tempat jiwaku yang lelah selalu menemukan jalan pulang.
Di matamu, aku melihat sejenis filsafat yang sederhana namun mendalam: bahwa mencintai tidak selalu tentang kemegahan badai, melainkan tentang kesetiaan sebatang lilin yang terus menyala di tengah malam yang paling dingin. Bahkan ketika dia tau, setiap pagi sisa lelehnya abadi. Sebagaimana ampas kopi semalam dalam renungku yang tak berujung, engkau bawa mundur ke dapur sebelum kepul asap baru kau hidangkan, kembali.
Engkau adalah langit yang subur
Dengan tanah yang sabar
dengan hujan-hujan, dengan kemarau
sedikit retak-retak..
menampung setiap benih mimpiku,
dan air yang tekun membasuh setiap luka
serta lelahku dari dunia luar.
Sketsa Takdir di Awal Juni
Langit kemarin menutup pintunya,
menahan langkahku yang hendak melarikan diri dari sisimu.
Ternyata, seisi semesta tahu,
rumahku tak pernah terletak di pulau seberang,
melainkan di dalam dadamu.
nDha, pada namamu yang mengalir bak sungai tenang,
aku menaruh sauh,
merayakan hari lahirmu tanpa jarak yang menjauh.
Menjadi teman hidupmu sejak itu adalah proses belajar memahami bahwa kebahagiaan tertinggi manusia bukan terletak pada seberapa jauh dia mampu melangkah, melainkan pada siapa dia memilih untuk berhenti.
Bersamamu, pencarianku telah selesai. Engkau adalah puisi yang ditulis Tuhan untuk meredakan segala bising di kepalaku.
Selamat hari lahir, Ayu Endha. Selamat merayakan usia baru di bumi yang hari ini sengaja menahanku untuk tidak pergi ke mana-mana, selain untuk menetap dan mencintaimu lebih dalam lagi. Meskipun engkau tau, dengan caraku yang biasa, tapi sederhana yang tak biasa.
peluk hangatku...
"sang kelainan"
Yogyakarta, 20260606
duiCOsta_hatihati
Comments
Post a Comment