lembar purba di senja baru

Duduklah sejenak, teman. Biar kutuangkan kopi yang barangkali kepulnya tak lagi kau kenali aromanya. Kau lihat ruang di antara kita sekarang? Ia tak lagi berisi udara, melainkan beton-beton bisu yang kau susun satu per satu setiap kali kau memilih untuk tidak bicara. Kau berubah menjadi sesuatu yang asing, sesuatu yang beku, seolah-olah kutub utara tiba-tiba pindah ke kursi di hadapanku ini. Aku tidak tahu apa yang sedang kau kunyah dalam kepalamu, tapi diammu itu adalah sebuah hukuman purba yang paling jahat, sebuah pengkhianatan ontologis terhadap esensi pertemanan kita. Jika kau punya belati, tusukkan saja di depan dadaku agar aku tahu di mana letak sakitnya. Ditelanjangi oleh kebenaran yang paling pahit sekalipun bagiku adalah sebuah kehormatan, ketimbang dibiarkan meraba-raba dalam kabut teka-teki yang kau ciptakan tanpa alasan yang jelas. Aku lebih berharap ketelanjanganmu, kita setubuhi satu sama lain tapi sehelai benang, meski itu harus menghancurkan kenyamanan, karena ternyata kita sama-sama lelaki. Selagi itu adalah kejujuran dari apa yang kau dengar, meski belum tentu itu benar, biarkan aku dengar untuk tau.

​Kau tahu betul siapa aku. Aku masih cermin polos itu, sebuah geometri jiwa di mana garis lurus adalah kejujuran. Jika kau datang dengan putihnya ketulusan, aku bisa menjadi lebih suci dari sayap malaikat untuk membalasnya atau setidaknya itu yang aku upayakan sebagai hutang rasa. Tapi jika kau memilih menghukumku dengan kebisuan yang tak beralasan, kau sedang mengundang iblis yang selama ini kutidurkan di sudut jiwa yang paling gelap, sesosok yang kau sendiri tak ingin temui. Aku tidak akan memohon padamu untuk mencair, karena aku bukan pemecah es, dan mencair adalah tugasmu terakhir. Jika kau memilih untuk membeku, itu adalah kedaulatanmu, namun aku punya hak untuk tidak lagi peduli. Aku memberimu sapaan dengan jeda spasi yang semakin lebar, bukan karena aku kehilangan kata-kata, tapi karena aku sedang membacamu yang perlahan-lahan dingin dan membeku. Aku memilih diam di sisi selatan menantimu mengutarakan untuk tak menghapus jejak-jejak manis yang pernah kita ukir, karena pertemanan bagiku adalah tentang "saling", bukan tentang "bersilang" tanpa arah.

​Lucu rasanya, melihat bagaimana kita yang dahulu begitu langka, kini harus menjadi asing karena tantrummu yang kau simpan sendiri seperti rahasia negara. Aku sudah mengubur semua tanda tanya itu hidup-hidup di dalam liang lahad rasaku, agar ia tidak menjadi bangkai yang membebani kematian rasaku. Hidupku harus terus berputar pada porosnya, dan aku tidak ingin berhenti hanya karena kau sedang asyik dengan duniamu yang mendadak gelap. Namun, jangan salah sangka. Aku menghilang tapi tidak pergi. Aku bertahan tapi tidak mencari. Aku masih singgah di sini, di tempat pertama kau temukan, bukan untuk menunggumu memelas, tapi untuk memastikan bahwa jika suatu hari kau merindukan jalan pulang, pintu ini tidak pernah kukunci. Peluk hangatku masih ada, tersimpan rapi di bawah selimut doa-doa dalam diamku yang selama ini menjagamu dari jauh.

di atas meja yang retak ini, 
kita pernah bertukar nyawa dalam kata
namun kini 
kau suguhkan cangkir kosong 
berisi sunyi yang paling purba

kau pikir diam adalah perisai, 
padahal ia adalah liang kubur bagi rasa
jangan kaget jika esok kau menoleh, 
dan tak lagi kau temukan aku di sana.
aku adalah selatan yang ajek, 
saat kau menjadi utara yang menjauh
aku adalah rumah yang tetap, 
saat kau menjadi badai yang gaduh
kembalilah saat kau sadar, 
bahwa benci butuh tenaga yang besar
sedangkan untuk pulang padaku, 
kau hanya butuh sedikit cair...

di hadapanku, 
kau adalah buku yang memilih mengatupkan sampulnya
saat kalimat belum usai, 
dan titik belum sempat kutancapkan
kau menghukumku dengan sunyi, 
seolah bisu adalah sebuah keadilan
padahal, diammu hanyalah cara paling pengecut 
untuk menghindari kebenaran.
jika kau beri aku api, 
akulah tungku yang menghangatkan
jika kau beri aku bisu diam, 
aku menjadi jurang yang menyesatkanmu pulang.
jangan ajari aku cara melupa, 
sebab aku ahli dalam menghapus jejak tanpa sisa.
​kini, biarlah tanya itu mati hidup-hidup
di dalam liang lahad rasaku
tak perlu jawaban 
jika hanya akan menjadi debu di mata
aku tetap di Selatan, 
menjaga api yang barangkali nanti kau utarakan
saat kau sadar bahwa dingin yang kau puja, 
kau sedang membantai secara masal.

kau halal membeku, 
aku berhak ragu,
kau bisa membenci,
aku pulang kepada harga diri
kau boleh bunuh diri,
aku makan tak peduli
hilang tanpa pergi adalah aku
tapi mencair adalah tugasmu sendiri...!!

Bagas waras sehat slamet, teman. Semoga semesta mengabarkan padaku di mana letak khilafku agar aku tahu bagaimana cara bersujud meminta maaf. Tapi selagi kau memilih bisu, biarlah waktu yang menjadi hakim paling adil di antara kita. Aku masih di sini, menghilang tanpa pergi, bertahan tanpa mencari. Kita lihat saja nanti, siapa yang lebih dulu kedinginan di tengah musim yang kau ciptakan sendiri.

Namun, jangan kau tafsirkan ketenanganku ini sebagai riak emosi yang sedang meratap. Jangan mengira diamku adalah balita yang lahir dari kerentanan hati yang kalah. Dalam dialektika jiwa, aku telah melampaui perasaan-perasaan remeh semacam itu. Jarak ini bukanlah sebuah luka, melainkan sebuah stoikisme moral; sebuah kesadaran bahwa aku tidak wajib menjadi penampung atas segala ketidakjelasanmu. Aku tidak sedang emosional, aku sedang rasional. Sebab, bagi seorang pencari hikmah, keterikatan pada seseorang yang memilih menjadi kabut adalah sebuah kesia-siaan eksistensial. Aku berhenti bukan karena aku patah, tapi karena aku tahu kapan harus menarik cahaya dari sumur yang kau tutup sendiri permukaannya. Ketenanganku adalah bentuk kedaulatan absolut atas diriku sendiri, yang tidak akan pernah goyah hanya karena kau memilih untuk menjadi asing.

Pomalaa, 20260512
duiCOsta_hatihati 

Comments

Popular Posts