Mocopat Laku
SEKAT JALAN RUH
Oleh seorang pejalan sunyi di ambang baca Sangkan Paraning Dumadi
1. MASKUMAMBANG
(Ruh di Alam Kasepuhan dan Benih di Samudra Rahim)
Di kedalaman tak bertempat, sebelum waktu mengenal ketukannya sendiri, ruh adalah sepercik cahaya yang mengapung di samudra keheningan azali. Ia bertengger manis di dalam lipatan Nuqta, titik ghaib yang menggantung di antara kehendak Kun dan manifested-nya alam wujud. Di dalam rahim ibu, jasad hanyalah segumpal tirta dan darah yang belum bernama, sementara sang ruh mengapung seperti emas di atas jelaga dunia, belum tersentuh debu prasangka, belum terikat oleh beratnya berat benda. Inilah fase kesucian murni di mana batas antara sang pencipta dan yang dicipta hanyalah selembar tirai tipis keheningan yang belum terkoyak oleh suara tangis pertama.
Ketika gumpalan daging itu mulai merangkai denyutnya, ruh menari dalam ketakjuban yang sunyi, mendengarkan simfoni rahasia yang digubah oleh Sang Maha Penggubah. Tidak ada duka, tidak ada jarak, tidak ada keinginan selain ketaatan yang melekat pada fitrah aslinya. Rahim menjadi mi'raj pertama tempat ia meminum air kehidupan tanpa meneguk rasa haus, dibelai oleh gema tasbih rahimiah yang senantiasa berzikir tanpa kata. Maskumambang adalah ratapan keindahan tentang kepasrahan total; sebuah entitas yang mengambang pasrah, menanti takdir pembukaan pintu alam syahadah dengan kepasrahan seorang kekasih yang menyerahkan seluruh napasnya.
Mengapung jua riak di rahim senyap,
Cahaya purba terperangkap di gumpal gelap.
Belum berjarak, belum terpisah oleh tirai tirat,
Jiwa bertapa di samudra tak bertepi dan tak tersurat.
Di batas pintu pelepasan rahim, ruh mulai merasakan tarikan gravitasi takdir yang akan membawanya turun ke bumi. Ada getaran kegetiran yang halus ketika batas alam jamal mulai menyentuh pekatnya alam material, seolah sebuah permata yang bersiap dijatuhkan ke dalam kubangan lumpur waktu. Namun, takdir telah memanggil namanya dalam bait tulisan Lauh Mahfuzh, memaksa sang embrio bernapas dalam gelombang rahim yang makin menyempit. Maskumambang mengubur kenangan alam arwah, menyisakan kerinduan samar yang kelak akan dicari oleh manusia sepanjang sisa usianya di bumi.
Tiada nama yang melekat pada jelaga jasad,
Hanya desah keheningan yang mengalir abadi dan pukat.
Wahai tirta azali yang menampung bisikan rahmat,
Jadikanlah kepasrahan ini benteng sebelum hembusan syarat.
2. MIJIL
(Tangis Pertama dan Fajar Kehadiran di Alam Syahadah)
Pintu rahim terbuka oleh dentang waktu, dan manusia terhempas ke alam syahadah dengan satu jeritan tajam yang membelah keheningan. Tangis pertama sang bayi bukanlah sekadar reaksi paru-paru yang menghirup udara fana, melainkan ratapan kosmik atas terpisahnya ruh dari kehangatan persatuan ghaib. Mijil adalah titik pecahnya cangkang telur keberadaan; sebuah pemunculan yang telanjang, rapuh, dan sepenuhnya bergantung pada belas kasih tangan-tangan di sekitarnya. Di sini, ruh baru saja meminum tegukan pertama dari cawan keterpisahan, menyadari bahwa ia kini memikul jasad yang lemah di bawah langit bumi yang keras.
Namun, di dalam kerapuhan bayi yang baru terlahir itu, tersembunyi benih keagungan yang tiada tara. Mata yang belum sanggup menatap cahaya dunia itu sebenarnya masih menyimpan sisa-sisa penglihatan alam jamal, menatap malaikat-malaikat yang menyambut kedatangannya dengan senyum syahdu. Setiap gerak jemari kecilnya adalah kuncup doa yang mekar di taman keberadaan, sebuah pengumuman bahwa takdir baru telah dimulai di panggung sandiwara fana. Mijil menyadarkan kita bahwa kelahiran adalah gerbang pengasingan yang anggun, tempat ruh memulai petualangan pencarian jalan pulang menuju sangkan mulanya.
Terbitlah jua matahari di balik tirai daging,
Tangis terhempas melintasi sunyi yang nyaring.
Dunia menyambut dengan pelukan dingin dan asing,
Ruh meratap sebab persatuan mulai berpaling.
Setitik embun kehidupan menetes di dahi sang bayi, membasahi dahi yang kelak akan bersujud dalam kepasrahan atau tersungkur dalam kesombongan. Orang tua mengalunkan azan dan iqamah di telinganya, menanamkan kembali pasak ketauhidan ke dalam relung kesadaran yang baru terbangun dari tidur rahim. Kata-kata suci itu berfungsi sebagai kompas ghaib, memastikan bahwa di tengah hiruk-pikuk dunia yang akan segera mengepungnya, sang ruh tidak akan pernah lupa pada peta jalan pulang. Mijil adalah fajar syahadah, awal dari risalah pribadi setiap jiwa yang diutus untuk menyelesaikan lingkaran takdirnya.
Bisikan azan meretas kabut yang membentang,
Menanam benih kompas di malam yang panjang.
Lahir engkau wahai peziarah yang telanjang,
Membawa pelita kecil menyongsong badai yang datang.
3. SINOM
(Tunas Muda dan Gelora Pencarian Jati Diri)
Raga tumbuh bagai pucuk dedaunan muda yang bersemi di awal musim semi; hijau, segar, dan sarat akan dahaga pengembaraan. Sinom adalah gelora masa muda ketika darah mengalir cepat menyirami taman cita-cita, dan indra-indra mulai terpesona oleh warna-warni ilusi duniawi. Ruh yang dulunya sunyi kini terbungkus oleh rasa ingin tahu yang membara, menjejakkan kakinya di atas tanah kehidupan dengan langkah-langkah yang penuh kepastian fana. Pada fase ini, dunia tampak seperti istana megah yang siap ditaklukkan, dan setiap sudutnya menawarkan janji kepuasan yang menggiurkan bagi sang diri yang sedang mekar.
Di balik keceriaan dan keindahan fisik yang memancar, terjadi pertempuran halus di balik bilik hati sang pemuda. Bayang-bayang ego (nafs) mulai membesarkan diri, mencoba mengaburkan ingatan suci yang dibawa dari alam Mijil. Namun, keindahan Sinom terletak pada kejujuran getarannya; ia adalah tunas muda yang mencari arah sinar matahari, terkadang meliuk diterjang angin, namun tetap menyimpan potensi untuk menjadi pohon yang rindang. Ruh sedang belajar mengenali bahasa indra, menakar batas antara kenikmatan yang memabukkan dan kebenaran yang menyelamatkan di tengah belantara pilihan.
Tunas bersemi menyapa angin pagi yang riang,
Darah muda menari di bawah terik yang terang.
Dunia membentang bagai permadani
yang gemerlap dan panjang,
Mengejar bayang-bayang
di antara bayang yang berbayang.
Pengembaraan jiwa di masa muda adalah karunia sekaligus ujian paling tajam bagi kelurusan niat. Jika tunas muda itu membiarkan dirinya dibengkokkan oleh benalu hasrat yang liar, maka langkahnya akan tersesat di dalam belantara godaan yang tak bertepi. Namun jika ia disirami oleh kearifan petunjuk purba, Sinom akan menjadi pondasi yang kokoh bagi pemikiran dan jiwa yang matang. Di fase inilah keindahan estetis dan kepekaan rasa rasa bertemu, membentuk kepribadian manusia yang siap mengarungi samudra tanggung jawab kehidupan yang lebih dalam.
Jangan biarkan tunasmu patah oleh prasangka,
Sebab masa muda adalah benteng dari segala sangka.
Petiklah bunga kebenaran di tengah taman suka,
Sebelum kelopak waktumu gugur disapu duka.
4. KINANTHI
(Tuntunan Tangan dan Langkah Bergandengan di Jalan Kebijakan)
Menyadari bahwa jalan pengembaraan terlalu terjal untuk dititi seorang diri, jiwa memerlukan pembimbing—seorang guru sejati atau pelita petunjuk yang mampu menuntun tangannya. Kinanthi adalah masa di mana ego muda menyerahkan kesombongannya untuk digandeng, diajari cara berjalan yang benar di atas titian sirath kehidupan. Jiwa tidak lagi sekadar berlari menuruti impuls kebebasan, melainkan belajar menata langkah sesuai irama hukum kosmik dan kebenaran ilahi. Tangan kearifan menggenggam jemari jiwa yang ringkih, menunjukkannya mana batu sandungan yang tersembunyi dan mana mata air yang menyehatkan.
Di dalam kesadaran Kinanthi, hubungan antara pencari dan petunjuk berubah menjadi tarian ketataan yang indah dan penuh khidmat. Ruh melatih keheningan batinnya untuk mendengar bisikan malaikat penyuluh, menyaring kebisingan prasangka, dan mengasah ketajaman rasa (rasa sejati). Ini adalah fase sublimasi spiritual, di mana energi masa muda yang liar mulai dijinakkan dan dialirkan untuk menggarap ladang kebajikan. Bergandengan tangan dalam Kinanthi bukan hanya bentuk kelemahan, melainkan keberanian tertinggi untuk mengakui bahwa tanpa rahmat petunjuk, manusia hanyalah pengembara buta di tengah malam pekat.
Tangan kearifan menggenggam jemari yang gemetar,
Menuntun langkah di jalan lurus yang terhampar.
Tiada lagi lari melompat tanpa arah dan jangkak,
Hanya kepatuhan murid di hadapan Sang Maha Pengajar.
Dengan dituntunnya langkah, jiwa mulai memahami peta rahasia yang tersembunyi di dalam dada manusia itu sendiri.
Pembimbing tidak membawa jiwa ke tempat yang jauh, melainkan menuntunnya kembali ke dalam istana batinnya yang telah lama diterlantarkan. Setiap ajaran dan disiplin kerohanian menjadi pahat yang merapikan batu kasar kepribadian, menjadikannya siap untuk menerima amanah kehidupan yang lebih berat. Kinanthi menyalakan pelita di dalam dada, memastikan bahwa ke mana pun kaki melangkah, jiwa selalu berjalan di dalam lingkaran cahaya petunjuk.
Langkah tertata mengikuti bisikan sang sufi,
Menghapus noda hitam di cermin hati yang murni.
Bergandengan kita melintasi jurang fana yang tersembunyi,
Menuju muara kasih tempat segala rasa bertepi.
5. ASMARANDANA
(Api Asmara dan Nyala Api Kasih Ilahi)
Lautan kehidupan mendadak bergolak ketika asmara membakar bilik-bilik dada, menyalakan api yang tak sanggup dipadamkan oleh samudra kata-kata. Asmarandana adalah kawah candradimuka di mana rasa cinta membakar seluruh kepribadian manusia, meleburkan keangkuhan ego ke dalam lelehan kasih sayang yang mendalam. Kasih sayang ini bermula dari tarikan antara dua insan, sebuah magnet kosmik yang menarik dua jiwa untuk saling cermin-mencerminkan keindahan Sang Pencipta. Namun bagi sang filsuf sufistik, api asmara manusiawi hanyalah percikan kecil dari Mahakarya Api Cinta Ilahi (Isq) yang membakar seluruh alam semesta.
Api ini tidak diciptakan untuk menghancurkan, melainkan untuk memurnikan emas jiwa dari kotoran-kotoran keakuan yang egois. Ketika seseorang mencintai, ia belajar mengorbankan keinginannya demi kebahagiaan yang dicintai; sebuah latihan awal menuju kepasrahan total kepada Sang Kekasih Abadi. Asmarandana mengajarkan bahwa penderitaan dalam cinta adalah kenikmatan yang tersembunyi, karena di dalam kepedihan meleburnya ego itulah jiwa merasakan kebebasan dari penjara dirinya sendiri. Nyala api ini membakar habis keangkuhan, menyisakan kehangatan kasih yang melimpah bagi seluruh makhluk di bumi.
Nyala api asmara membakar kemah keakuan,
Meleburkan dua jiwa dalam satu kerinduan.
Dada terbakar oleh gejolak rasa yang tak terperikan,
Mencari wajah Kekasih di balik tiap pandangan.
Di puncak nyala Asmarandana, cinta manusiawi bertransformasi menjadi tangga menuju cinta transendental yang tak terbatas oleh rupa dan bentuk. Sang pejalan tidak lagi hanya mencintai fisik yang fana, melainkan mencintai Jejak Keindahan yang terpancar pada setiap ciptaan. Percikan api cinta ini menjadi bahan bakar utama yang menggerakkan roda kehidupan, memberikan kekuatan tak terbatas bagi jiwa untuk mengarungi gelombang ujian yang lebih dahsyat. Rasa cinta adalah rahasia terbesar keberadaan; ia adalah alasan mengapa alam semesta ini diciptakan dari tiada menjadi ada.
Abu keangkuhan terbang tertiup angin malam,
Menyisakan lelehan kasih yang teduh dan dalam.
Wahai Api Suci yang menyala di relung kelam,
Bakarlah daku hingga tak ada lagi selain Yang Maha Salam.
6. GAMBUH
(Pernikahan Suci dan Pengikatan Janji Jiwa)
Asmara yang menyala akhirnya menemukan muara kedamaiannya dalam ikatan persatuan yang suci, kokoh, dan penuh kesadaran. Gambuh adalah fase penyatuan dua muara menjadi satu aliran sungai yang tenang; sebuah ikatan janji di mana dua jiwa berikrar untuk berjalan bersama menempuh perjalanan pulang. kata Gambuh membisikkan kecocokan, keselarasan, dan keheningan hati yang telah menemukan tempat berlabuhnya. Ini bukan lagi sekadar gejolak emosi yang membakar seperti Asmarandana, melainkan komitmen matang yang menganyam dua takdir menjadi satu permadani kehidupan yang indah dan bernilai ibadah.
Di dalam tataran sufistik, Gambuh adalah nikah al-ruh—pernikahan antara jasad dan ruh, antara yang lahir dan yang batin, antara hamba dan syariat-Nya. Seluruh elemen dalam diri manusia yang dulunya saling berbenturan kini menemukan titik keseimbangan yang sempurna (tazkiyatun nafs). Manusia tidak lagi terbelah oleh pertentangan batin, melainkan menyatu dalam ketenangan yang harmonis. Rumah tangga yang dibangun menjadi miniatur alam semesta, tempat benih-benih generasi baru disemaikan di atas tanah doa dan ketakwaan yang subur.
Dua sungai menyatu di satu muara yang tenang,
Janji terucap di bawah saksi langit yang terang.
Tiada lagi 'aku' dan 'engkau' yang saling berperang,
Hanya 'kita' yang berlayar di atas samudra kasih yang terbentang.
Pengikatan janji ini adalah benteng utama dalam menghadapi gelombang terjal duniawi yang akan terus menerjang tanpa henti. Di dalam kemesraan yang matang ini, suami dan istri menjadi pakaian bagi satu sama lain, saling menutupi cacat dan saling memantulkan kebaikan. Gambuh mengajarkan kearifan bertoleransi, melatih kesabaran, dan mengubah rutinitas sehari-hari menjadi ladang penyucian jiwa yang tiada putus. Jiwa telah menemukan jangkar yang kokoh di tengah samudra fana, siap membangun peradaban kecil di dalam istana kesederhanaan.
Tali ikatan terjalin di atas altar takdir,
Menyerap duka dan suka dalam doa yang mengalir.
Bersatulah wahai jiwa di dalam lingkaran zikir,
Hingga garis waktu mengetuk batas yang terakhir.
7. DHANDHANGGULA
(Manisnya Puncak Kejayaan dan Kematangan Batin)
Perjalanan sampai pada padang rumput yang hijau dan berbuah lebat, tempat manisnya kehidupan mengecap puncak kenikmatannya. Dhandhanggula adalah nyanyian manisnya harapan yang terwujud; sebuah fase di mana manusia menikmati buah dari kerja keras, kebajikan, dan kesabaran masa lalunya. Karier mencapai puncaknya, keluarga berkembang dalam keharmonisan, dan kedudukan di masyarakat memberikan penghormatan yang layak. Secara estetik dan material, inilah musim panen raya kehidupan, tempat cawan kenikmatan terisi penuh oleh anggur keberhasilan yang memabukkan jika tidak diwaspadai dengan ketelitian jiwa.
Namun bagi sang pemikir jernih, manisnya Dhandhanggula tidak terletak pada tumpukan harta benda atau tingginya tahta keduniawian, melainkan pada keheningan syukur yang merayapi kalbu. Rasa manis yang sejati (gula) adalah ketika jiwa mampu melihat bahwa semua keberhasilan ini hanyalah titipan transitoris dari Sang Maha Pemurah. Di tengah kelimpahan rezeki dan penghormatan, pejalan ruh justru makin menundukkan kepalanya bagai padi yang berisi, menyadari bahwa semakin manis cawan dunia yang diminumnya, semakin besar tanggung jawab spiritual yang harus dipertanggungjawabkannya di hadapan Sang Pemilik Kehidupan.
Cawan kehidupan terisi anggur manis yang melimpah,
Pohon kebaikan berbuah rihat
di atas tanah yang subur dan gemah.
Dunia tersenyum memberikan mahkota dan tampah,
Namun jiwa yang bijak tetap bersujud
di atas tanah yang pasrah.
Kemudahan dan kemanisan adalah ujian yang jauh lebih samar dan berbahaya ketimbang kepedihan dan penderitaan. Banyak jiwa yang tenggelam dan tertidur lelap dalam buaian Dhandhanggula, mengira bahwa puncak gunung dunia ini adalah tujuan akhir dari perjalanan abadi mereka. Namun, ruh yang terikat pada Sangkan Paraning Dumadi menggunakan keindahan fase ini sebagai batu pijakan untuk melompat lebih tinggi ke alam kedermawanan dan pengabdian. Manisnya dunia dialirkan menjadi manfaat bagi sesama, sebelum musim gugur tiba dan melucuti seluruh perhiasan fana tersebut.
Jangan memabukkan dirimu dengan madu yang fana,
Sebab manisnya dunia adalah bayang yang segera sirna.
Bagikan rezekimu sebelum waktu mengetuk sarana,
Jadikan kejayaan ini bekal menuju alam yang mulia.
8. DURMA
(Derma Kebajikan dan Pengangkatan Senjata Pemungkas Ego)
Matahari mulai condong ke barat, dan jiwa dipanggil untuk membagikan apa yang telah dikumpulkannya di puncak kejayaan. Durma berasal dari akar kata dharma, sebuah keharusan untuk berderma, menebar kebaikan, dan bertindak sebagai pelindung bagi yang lemah. Fase ini ditandai oleh kebangkitan rasa empati sosial yang meluap; manusia tidak lagi hidup untuk menumpuk kejayaan pribadi, melainkan mengalirkan hidupnya menjadi mata air bagi kemanusiaan. Namun Durma juga memiliki watak yang keras dan tegas; ia adalah panggilan perang (pemberontakan batin) melawan sisa-sisa hawa nafsu egois yang masih bersarang di dalam diri sendiri.
Di dalam keheningan Durma, sang filsuf mengangkat pedang kesadaran untuk memenggal kepala naga kesombongan, ketakutan, dan keserakahan batiniah. Ini adalah pertempuran terbesar (jihad al-akbar) yang dilakukan di ambang usia senja, ketika fisik mulai menurun namun kekuatan spiritual mencapai puncak ketajamannya. Berderma dalam Durma bukan sekadar memberi materi, melainkan mendermakan seluruh sisa waktu, ilmu, dan perhatian untuk memperbaiki kerusakan di sekitarnya. Jiwa bersiap mengosongkan bejalannya agar bisa diisi penuh oleh rahmat murni sebelum perjalanan dilanjutkan.
Darah kedermawanan mengalir
membasahi bumi yang dahaga,
Tangan memberi tanpa pernah
mengingat apa yang dijaga.
Pedang kebenaran diacungkan
menembus dinding dada,
Membunuh naga keakuan
yang bersarang di dalam raga.
Kerasnya nada Durma adalah ketegasan seorang pejuang yang tahu bahwa waktunya di panggung dunia tidak lagi banyak. Ia tidak memiliki waktu lagi untuk berkompromi dengan kepalsuan, basa-basi sosial, atau ilusi kehormatan duniawi. Setiap tindakannya adalah langkah nyata untuk memberesi utang-utang karma dan moral, merajut kembali tali persaudaraan yang terputus, dan memastikan bahwa tidak ada beban yang tertinggal ketika panggilan pulang bergema. Durma adalah penyucian lapangan jiwa sebelum keheningan total menyelimuti seluruh panggung keberadaan.
Tebaslah rantai ketakutan yang mengikat jemari,
Berbagilah sinar sebelum malam menutup hari.
Tiada guna harta jika jiwa terpasung mandiri,
Hanya kedermawanan yang akan menjadi kawan abadi.
9. PANGKUR
(Membelakangi Duniawi dan Bertapa di Dalam Keheningan Batin)
Langkah kaki diperlambat, pandangan mata ditarik dari keramaian pasar dunia, dan jiwa membalikkan badannya (singkur). Pangkur adalah keputusan radikal untuk membelakangi hawa nafsu keduniawian, mengundurkan diri dari panggung perebutan pengaruh, dan memfokuskan seluruh pancadriya hanya kepada Sang Maha Tunggal. Manusia kini duduk di pendapa keheningan usianya, menatap hiruk-pikuk dunia di luar sana seperti menonton tarian bayangan yang tidak lagi mampu memikat hatinya. Rambut yang memutih dan kulit yang memudar menjadi tanda dari alam bahwa jubah fana ini sudah terlalu usang untuk terus dipakai.
Di dalam kesepian Pangkur yang syahdu, terjadi proses merekam ulang seluruh perjalanan hidup dari Maskumambang hingga Durma. Jiwa melakukan pertaubatan yang mendalam (taubat nasuha), membersihkan cermin batin dari debu-debu dosa yang sempat menempel selama pengembaraan. Ini adalah masa bertapa di tengah ramai (meneng ing tengahing rame); jasad mungkin masih berada di antara manusia, namun hati telah mengangkasa dan bertengger di ambang pintu alam malakut. Pangkur memberikan kedamaian yang tak terlukiskan, kedamaian dari seorang peziarah yang telah selesai mengemas barang bawaannya.
Membelakangi panggung gemerlap
yang kini memudar,
Jiwa duduk bertapa
di bawah pohon keheningan yang mekar.
Dunia di luar berseru,
namun hati tak lagi terlempar,
Hanya menyebut Nama-Mu
di setiap hela napas yang terputar.
Seluruh keinginan telah padam, digantikan oleh kerinduan tunggal untuk bertemu kembali dengan Sang Kekasih. Suara-suara bising dari pujian dan celaan manusia kini terdengar sama saja; bagaikan siulan angin malam yang lewat di celah jendela. Pangkur adalah fase persiapan teragung, di mana manusia belajar mati sebelum mati yang sesungguhnya (mutilat ikhtiyari). Jiwa melepas satu per satu keterikatannya pada anak, harta, dan nama besar, menyederhanakan eksistensinya hingga hanya menjadi seberkas cahaya yang bersiap melompat kembali ke dalam Kasa Abadi.
Lepaskan jubah kebanggaan yang telah usang dan robek,
Biarkan malam menyelimuti tubuh yang kian membongkok.
Di dalam sunyi yang hening, rahasia suci membisikkan derok,
Bahwa rumah sejati telah dekat di sebalik tembok.
10. MEGATRUH
(Detik-Detik Putusnya Nyawa dan Pelepasan Sang Burung Jiwa)
Lonceng takdir memukul dentang akhirnya; waktu yang dipinjamkan telah genap hingga hitungan detik terakhir. Megatruh adalah sakaratul maut, momen paling sakral dan mendebarkan ketika ikatan antara ruh (ruh) dan jasad (jasad) diputus (megat) oleh jemari malaikat maut. Tarikan napas menjadi berat dan dalam, dingin merayap perlahan dari telapak kaki menuju lutut, menandakan bahwa jubah tanah ini sedang dikembalikan kepada pemilik aslinya. Bagi mereka yang tidak bersiap, momen ini adalah kegetiran yang tiada tara; namun bagi sang pencinta, inilah detik-detik pembukaan tirai penjara dunia untuk terbang menuju kebebasan mutlak.
Ruh menatap jasadnya sendiri dengan rasa kasihan yang anggun; raga yang telah menemaninya menangis, tertawa, bersujud, dan berjalan puluhan tahun itu kini terkulai lelah bagai pakaian usang yang ditinggalkan pemiliknya. Kerabat menangis di sekeliling pembaringan, namun suara mereka terdengar makin menjauh dan meredup, tergantikan oleh nyanyian selamat datang dari penghuni alam langit. Megatruh adalah pelepasan sang burung dari sangkarnya yang sempit; sang burung mengepakkan sayap cahayanya, membumbung tinggi melintasi batas-batas udara dan awan, meninggalkan panggung fana yang telah selesai diperankannya.
Terputus jua tali nyawa di tenggorokan yang sunyi,
Ruh mengepakkan sayap menembus batas bumi.
Jasad terkulai dingin di atas pembaringan yang sepi,
Mengembalikan tanah kepada tanah yang abadi.
Tidak ada lagi kata-kata yang sanggup diucapkan oleh bibir yang telah mengatup rapat, hanya kalimah ketauhidan terakhir yang bergetar di dalam kedalaman ruh yang memancar. Pelepasan ini adalah kelahiran kedua—kelahiran menuju alam barzakh yang luasnya melampaui imajinasi manusia terpandai sekalipun. Megatruh mengajarkan hakikat utama eksistensi: bahwa manusia bukanlah jasad yang memiliki ruh, melainkan ruh abadi yang sedang menyinggahi jasad sementara. Dengan terputusnya napas terakhir, selesailah risalah ujian, dan mulailah proses perjumpaan yang telah lama dirindukan.
Selamat tinggal wahai sangkar daging yang rapuh,
Engkau telah menemaniku di jalan yang berdebu dan jauh.
Kini aku terbang menuju Pelukan Yang Maha Penyembuh,
Meninggalkan panggung fana dengan jiwa yang utuh.
11. POCUNG
(Pembungkusan Kain Kafan dan Kembalinya Tanah ke Asal Mula)
Tubuh yang dulunya diberi nama, diberi gelar, dan dipuja-puja itu kini kehilangan seluruh atribut dunianya. Pocung adalah tahap akhir di bumi: jasad dimandikan dengan air bunga, dibersihkan dari segala sisa debu duniawi, dan dibungkus ketat dengan tiga atau lima lembar kain kafan putih yang polos tanpa saku. Tidak ada lagi perbedaan antara raja dan pengemis, antara bangsawan dan rakyat jelata; semuanya diringkus dalam bentuk yang sama, sebuah pocong yang terbujur kaku di atas keranda kayu. Pocung adalah pengingat paling puitis dan tragis tentang kesetaraan mutlak manusia di hadapan tanah dan kematian.
Jasad diturunkan perlahan ke dalam liang lahat yang gelap dan sempit, disandarkan ke dinding tanah menghadap kiblat, dan tali-tali pengikat kain kafan dilepaskan agar pipi dapat menyentuh ibu pertiwi secara langsung. Tanah ditimbunkan kembali, doa-doa dibacakan, dan langkah kaki para pelayat perlahan meninggalkan pemakaman yang kembali sunyi. Di dalam keheningan liang kubur itu, Pocung menjadi simbol kembalinya materi ke asalnya: tanah kembali menjadi tanah, sementara ruh telah berdiri tegap di panggung perhitungan alam barzakh, bersiap mempertanggungjawabkan setiap jengkal jejak kaki yang pernah ditinggalkannya di bumi.
Dibungkus kain putih tanpa saku dan perhiasan,
Tubuh membatu di dalam keranda kayu kemanusiaan.
Nama dan gelar lebur di dalam tanah kuburan,
Menanti pertanyaan di alam sunyi tanpa kawan.
Namun, di dalam sudut pandang sufistik Sangkan Paraning Dumadi, Pocung bukanlah titik akhir yang membinasakan, melainkan sebuah kepompong spiritual. Dari liang tanah inilah benih kebangkitan ditanam, menanti terompet kebangkitan kosmik yang akan membangunkan seluruh jiwa untuk memetik hasil tanamannya. Lingkaran Macapat telah genap sempurna: dari Maskumambang yang mengapung di rahim, hingga Pocung yang berbaring di rahim bumi. Manusia telah menyelesaikan putaran nasibnya, kembali kepada Gusti Sang Murbeng Dumadi, kembali ke asal muasal dengan membawa jiwa yang telah disepuh oleh pengalaman hidup.
Pipi menyentuh tanah ibu pertiwi yang dingin,
Tali kafan terlepas tertiup keheningan angin.
Selesailah sudah tarian di bawah panggung cermin,
Ruh kembali ke Asal Mulanya yang Abadi dan Abidin.
Comments
Post a Comment